Launching produk sering dianggap sebagai momen “grand opening”-nya sebuah brand. Sudah capek riset, produksi, branding, bahkan mungkin keluar budget besar buat promosi. Tapi kenyataannya, nggak sedikit brand yang justru kecewa karena launching produk terasa sepi, minim buzz, dan nggak banyak yang benar-benar notice.
Kalau kamu pernah ngalamin hal ini, tenang—kamu nggak sendirian. Banyak brand gagal menarik perhatian bukan karena produknya jelek, tapi karena ada beberapa kesalahan krusial yang sering dianggap sepele.
Yuk, kita bedah satu per satu.

1. Terlalu Fokus ke Produk, Lupa ke Cerita
Salah satu kesalahan paling umum adalah terlalu sibuk menjelaskan spesifikasi produk. Fitur ini, keunggulan itu, teknologi terbaru, dan seterusnya. Padahal, audiens hari ini lebih tertarik pada cerita di balik produk, bukan sekadar produknya.
Orang ingin tahu:
- Kenapa produk ini dibuat?
- Masalah apa yang ingin diselesaikan?
- Kenapa produk ini relevan dengan hidup mereka?
Tanpa storytelling yang kuat, launching produk akan terasa datar dan mudah tenggelam di tengah ramainya konten digital.
2. Salah Menentukan Target Audiens
Launching produk ke semua orang = launching ke tidak ada siapa-siapa.
Banyak brand masih terjebak mindset “yang penting rame dulu”. Akhirnya, pesan yang disampaikan terlalu umum dan nggak kena ke siapa pun secara spesifik. Padahal, launching yang efektif justru dimulai dari target audiens yang jelas dan tajam.
Siapa yang paling butuh produk ini?
Di mana mereka biasa nongkrong (online maupun offline)?
Masalah apa yang paling mereka rasakan?
Kalau targetnya meleset, sekeras apa pun promosi yang dilakukan hasilnya akan tetap hambar.
3. Kurang Menciptakan Momentum
Launching produk bukan sekadar upload konten di hari-H lalu selesai. Sayangnya, masih banyak brand yang melewatkan fase pre-launch dan post-launch.
Idealnya, launching itu dibangun seperti cerita berseri:
- Teasing sebelum hari-H
- Countdown atau sneak peek
- Aktivasi utama saat launching
- Follow-up setelah launching
Tanpa momentum yang dibangun pelan-pelan, audiens nggak punya alasan untuk menunggu, apalagi merasa penasaran.
4. Eksekusi Acara atau Aktivasi yang Biasa Saja
Kalau launching dilakukan lewat event—baik online maupun offline—eksekusi yang “terlalu aman” juga bisa jadi biang kegagalan. Acara yang monoton, konsep standar, dan minim interaksi akan cepat dilupakan.
Launching produk idealnya memberi pengalaman, bukan cuma informasi. Bisa lewat:
- Demo interaktif
- Aktivasi kreatif
- Kolaborasi dengan komunitas atau kreator
- Konten yang bisa dibagikan ulang oleh audiens
Semakin berkesan pengalamannya, semakin besar peluang produkmu dibicarakan.
5. Terlalu Jualan, Kurang Engage
Kesalahan lain yang sering terjadi: sejak awal langsung hard selling. Audiens baru dikenalkan produk, tapi sudah “dipaksa” beli. Alhasil, bukannya tertarik, mereka malah skip.
Di fase launching, fokus utamanya bukan penjualan cepat, tapi attention dan engagement. Bangun rasa penasaran dulu, ajak audiens ngobrol, dan buat mereka merasa dilibatkan.
Kalau hubungan sudah terbentuk, penjualan biasanya akan mengikuti dengan sendirinya.
Kesimpulan
Launching produk yang gagal menarik perhatian bukan selalu soal budget atau kualitas produk. Sering kali, masalahnya ada di strategi, pendekatan, dan eksekusi yang kurang matang. Mulai dari storytelling yang lemah, target audiens yang kabur, hingga minimnya pengalaman menarik saat launching.
Kalau brand ingin produknya benar-benar diingat dan dibicarakan, launching harus dipikirkan sebagai strategi komunikasi dan pengalaman, bukan sekadar momen formalitas.
Kalau kamu ingin mengemas launching produk dengan konsep yang relevan, kreatif, dan punya daya tarik kuat ke audiens, Magenta siap membantu.
Mulai dari ide, strategi, hingga eksekusi event dan campaign, Magenta bisa jadi partner yang bikin launching produkmu nggak cuma jalan—tapi benar-benar berdampak















