WORKSHOP CIVIC EDUCATION PIMPINAN PONPES
Bule Jerman pun pintar berbahasa Arab
Baca Juga
Besok UN ulangan SMA diumumkanBesok UN ulangan SMA diumumkan
Daftar kolektif hasil ujian nasional ulangan (DKHUN-U) telah diterima oleh Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim. Dijadualkan, DKHUN-U itu bakal diberikan ke masing-masing kabupaten dan kota di Jatim pada ...
Daftar kolektif hasil ujian nasional ulangan (DKHUN-U) telah diterima oleh Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim. Dijadualkan, DKHUN-U itu bakal diberikan ke masing-masing kabupaten dan kota di Jatim pada ...
Raih ‘Keluarga Sakinah Teladan Jatim’
Raih ‘Keluarga Sakinah Teladan Jatim’
PENSIUNAN guru agama di lingkungan Kandepag Pamekasan itu akhirnya terpilih sebagai Keluarga Sakinah Teladan Jatim 2010. Pasangan KH Jalaluddin dan Hj Halimah Karim berhasil mengalahkan pasangan ...
PENSIUNAN guru agama di lingkungan Kandepag Pamekasan itu akhirnya terpilih sebagai Keluarga Sakinah Teladan Jatim 2010. Pasangan KH Jalaluddin dan Hj Halimah Karim berhasil mengalahkan pasangan ...
Mengatasi problem perkotaan
Mengatasi problem perkotaan
IAIN Sunan Ampel bersama dengan Pemkot Surabaya melakukan kerjasama dalam segala bidang, terutama untuk mengatasi masalah perkotaan, kemarin. Acara tersebut dikemas melalui penandatanganan memorandum ...
IAIN Sunan Ampel bersama dengan Pemkot Surabaya melakukan kerjasama dalam segala bidang, terutama untuk mengatasi masalah perkotaan, kemarin. Acara tersebut dikemas melalui penandatanganan memorandum ...
Bule Jerman pun pintar berbahasa Arab
Bule Jerman pun pintar berbahasa Arab
Seorang bule dari Jerman tampil istimewa dan mengesankan di hadapan para kiai peserta workshop. Ia fasih bicara soal demokrasi, fasih juga menggunakan bahasa Arab untuk berkomunikasi dengan ...
Seorang bule dari Jerman tampil istimewa dan mengesankan di hadapan para kiai peserta workshop. Ia fasih bicara soal demokrasi, fasih juga menggunakan bahasa Arab untuk berkomunikasi dengan ...
Tetap saja jeblok
Tetap saja jeblok
Hasil try out ujian nasional (UN) tingkat SMP di Surabaya masih tidak memuaskan. Terbukti dalam uji coba songsong UN yang digelar kali kedua, jumlah siswa yang tidak lulus ...
Hasil try out ujian nasional (UN) tingkat SMP di Surabaya masih tidak memuaskan. Terbukti dalam uji coba songsong UN yang digelar kali kedua, jumlah siswa yang tidak lulus ...
Wilayah kepulauan jadi prioritas
Wilayah kepulauan jadi prioritas
Pendistribusian naskah soal ujian nasional (UN) sudah mulai dilakukan hari ini. Pendistribusian naskah soal itu lebih dulu diprioritaskan bagi wilayah-wilayah kepulauan yang sulit dijangkau ...
Pendistribusian naskah soal ujian nasional (UN) sudah mulai dilakukan hari ini. Pendistribusian naskah soal itu lebih dulu diprioritaskan bagi wilayah-wilayah kepulauan yang sulit dijangkau ...
DUTA MASYARAKAT, 11 Maret 2010
fathis suud surabaya
Seorang bule dari Jerman tampil istimewa dan mengesankan di hadapan para kiai peserta workshop. Ia fasih bicara soal demokrasi, fasih juga menggunakan bahasa Arab untuk berkomunikasi dengan peserta.
Ada yang tak biasa di ruang pertemuan Hotel Sahid Surabaya, Rabu (10/3). Dua bule terlihat serius menyajikan materi, sementara para pimpinan pondok pesantren (ponpes) serius menyimak uraian mereka. Tak salah lagi, itulah Workshop Civic Education bagi Pimpinan Pondok Pesantren se-Jawa Timur.
Bule-bule itu adalah Richard Asbeck dan Urlich Klingshrn, keduanya dari Hanns Seidel Foundation (HSF) Jerman. Keduanya juga aktivis partai berbasis agama dari Jerman. Urlich dari Christian Democratic Union (CDU), sedangkan Richard dari Christlich-Soziale Union (CSU).
Richard tampil memukau di hadapan peserta workshop. Sebelum tampil, Ketua PBNU Prof Dr KH Masykuri Abdillah yang memandu acara sempat menawarkan kepada peserta. “Bil lughatil Inglisiah au lughatil Arabiyah?” katanya.
Peserta yang merupakan pimpinan pesantren tentu saja memilih Bahasa Arab. “Naam, bil lughotil Arabiyah,” jawab mereka.
Sejurus kemudian, Richard menjelaskan soal demokrasi dan kehidupan keberagamaan di beberapa negara Islam dengan bahasa Arab yang fasih. Bukan cuma saat menyajikan materi ia menggunakan bahasa dari padang pasir itu. Dalam sesi tanya jawab pun ia menggunakan bahasa Arab.
Kehadiran Richard dan Urlich dalam seminar itu tak lepas dari hubungan baik mereka dengan PBNU. Urlich yang juga Direktur HSF menjelaskan, lembaga yang dipimpinnya sudah lama menjalin hubungan itu. HSF, kata dia, memilih NU karena dikenal sebagai ormas Islam moderat.
“NU itu ormas Islam yang beraliran moderat, kami sama-sama punya semangat agar nilai agama itu memberi ruh dalam kehidupan,” ujarnya saat memberikan materi kepada peserta workshop.
“NU dan pesantren memang dipilih untuk acara ini, karena sudah dikenal sebagai pemeluk Islam moderat,” imbuh Masykuri yang juga ketua PBNU bidang hubungan luar negeri ini.
Ia menambahkan, topik demokrasi dan hubungan dengan masalah Islam sengaja dipilih karena Islam d Indonesia, khususnya yang dianut NU, adalah moderat. Sementara di negara Islam lainnya cenderung radikal.
“Islam di Indonesia itu moderat, kalau ada teroris seperti yang kemarin ditangkap itu karena pengaruh dari Islam luar Indonesia, penggerak teroris itu adalah alumni Afghanistan,” tambahnya.
Ia juga membandingkan madrasah di Pakistan adalah tempat basis pendidikan kaum fundamentalis. “Sementara di Indonesia khususunya NU sebagai tempat penembangan Islam moderat,” imbuhnya. Menurut Richard worshop bagi pimpinan pesantren sangat ini penting. Tujuannya adalah untuk membuka dialog antar Islam dan agama lain, khususnya Kristen yang banyak dianut di Barat.
Ia membandingkan dengan Arab Suadi yang dalam dua tahun terakhir sudah berani memprakarsai kajian dan dialog antar pemimpin umat agama. “Walaupun terlambat dengan yang digagas NU, tapi apa yang dilakukan Arab Saudi adalah positif,” tegasnya. n
Ada yang tak biasa di ruang pertemuan Hotel Sahid Surabaya, Rabu (10/3). Dua bule terlihat serius menyajikan materi, sementara para pimpinan pondok pesantren (ponpes) serius menyimak uraian mereka. Tak salah lagi, itulah Workshop Civic Education bagi Pimpinan Pondok Pesantren se-Jawa Timur.
Bule-bule itu adalah Richard Asbeck dan Urlich Klingshrn, keduanya dari Hanns Seidel Foundation (HSF) Jerman. Keduanya juga aktivis partai berbasis agama dari Jerman. Urlich dari Christian Democratic Union (CDU), sedangkan Richard dari Christlich-Soziale Union (CSU).
Richard tampil memukau di hadapan peserta workshop. Sebelum tampil, Ketua PBNU Prof Dr KH Masykuri Abdillah yang memandu acara sempat menawarkan kepada peserta. “Bil lughatil Inglisiah au lughatil Arabiyah?” katanya.
Peserta yang merupakan pimpinan pesantren tentu saja memilih Bahasa Arab. “Naam, bil lughotil Arabiyah,” jawab mereka.
Sejurus kemudian, Richard menjelaskan soal demokrasi dan kehidupan keberagamaan di beberapa negara Islam dengan bahasa Arab yang fasih. Bukan cuma saat menyajikan materi ia menggunakan bahasa dari padang pasir itu. Dalam sesi tanya jawab pun ia menggunakan bahasa Arab.
Kehadiran Richard dan Urlich dalam seminar itu tak lepas dari hubungan baik mereka dengan PBNU. Urlich yang juga Direktur HSF menjelaskan, lembaga yang dipimpinnya sudah lama menjalin hubungan itu. HSF, kata dia, memilih NU karena dikenal sebagai ormas Islam moderat.
“NU itu ormas Islam yang beraliran moderat, kami sama-sama punya semangat agar nilai agama itu memberi ruh dalam kehidupan,” ujarnya saat memberikan materi kepada peserta workshop.
“NU dan pesantren memang dipilih untuk acara ini, karena sudah dikenal sebagai pemeluk Islam moderat,” imbuh Masykuri yang juga ketua PBNU bidang hubungan luar negeri ini.
Ia menambahkan, topik demokrasi dan hubungan dengan masalah Islam sengaja dipilih karena Islam d Indonesia, khususnya yang dianut NU, adalah moderat. Sementara di negara Islam lainnya cenderung radikal.
“Islam di Indonesia itu moderat, kalau ada teroris seperti yang kemarin ditangkap itu karena pengaruh dari Islam luar Indonesia, penggerak teroris itu adalah alumni Afghanistan,” tambahnya.
Ia juga membandingkan madrasah di Pakistan adalah tempat basis pendidikan kaum fundamentalis. “Sementara di Indonesia khususunya NU sebagai tempat penembangan Islam moderat,” imbuhnya. Menurut Richard worshop bagi pimpinan pesantren sangat ini penting. Tujuannya adalah untuk membuka dialog antar Islam dan agama lain, khususnya Kristen yang banyak dianut di Barat.
Ia membandingkan dengan Arab Suadi yang dalam dua tahun terakhir sudah berani memprakarsai kajian dan dialog antar pemimpin umat agama. “Walaupun terlambat dengan yang digagas NU, tapi apa yang dilakukan Arab Saudi adalah positif,” tegasnya. n


