BOSAN LIHAT KEBAKARAN
Ciptakan detektor kebocoran gas
Baca Juga
Camat-Kades sosialisasikan tabung gasCamat-Kades sosialisasikan tabung gas
KASUS ledakan yang diakibatkan oleh tabung elpiji membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang ekstra hati-hati untuk menyalurkan tabung gas, dan meminta aparat desa dan kecamatan ikut berperan ...
KASUS ledakan yang diakibatkan oleh tabung elpiji membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang ekstra hati-hati untuk menyalurkan tabung gas, dan meminta aparat desa dan kecamatan ikut berperan ...
Pengawasan PT Pertamina Dipertanyakan
Pengawasan PT Pertamina Dipertanyakan
DPRD Jatim melalui Komisi B meminta kepada PT Pertamina supaya memperketat pengawasan distribusi gas Liquified Petrolium Gas (LPG). Pasalnya, disinyalir banyak tabung gas LPG palsu yang beredar di ...
DPRD Jatim melalui Komisi B meminta kepada PT Pertamina supaya memperketat pengawasan distribusi gas Liquified Petrolium Gas (LPG). Pasalnya, disinyalir banyak tabung gas LPG palsu yang beredar di ...
Desak LPG tak ber-SNI ditarik
Desak LPG tak ber-SNI ditarik
MARAKNYA kasus kebakaran yang disebabkan oleh tabung gas elpiji (LPG) menarik perhatian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Jatim. Mereka meminta pemerintah segera menarik tabung LPG, regulator ...
MARAKNYA kasus kebakaran yang disebabkan oleh tabung gas elpiji (LPG) menarik perhatian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Jatim. Mereka meminta pemerintah segera menarik tabung LPG, regulator ...
Ciptakan detektor kebocoran gas
Ciptakan detektor kebocoran gas
AHMAD Zainuri masih setia menyambung kabel demi kabel. Setelah berhasil menyambungnya dan alat detektor kebocoran gas itu berfungsi, tak lama kemudian mati lagi. Merasa kurang rapat menyambung, ...
AHMAD Zainuri masih setia menyambung kabel demi kabel. Setelah berhasil menyambungnya dan alat detektor kebocoran gas itu berfungsi, tak lama kemudian mati lagi. Merasa kurang rapat menyambung, ...
Didrop langsung jadi rebutan
Didrop langsung jadi rebutan
Pembagian tabung gas elpiji dan kompor gratis dari pemerintah yang tidak merata, membuat ratusan ibu rumah tangga di Kota Probolinggo harus rebutan minyak tanah (mitan). Sebab, seiring program ...
Pembagian tabung gas elpiji dan kompor gratis dari pemerintah yang tidak merata, membuat ratusan ibu rumah tangga di Kota Probolinggo harus rebutan minyak tanah (mitan). Sebab, seiring program ...
Elpiji bocor
Elpiji bocor
Kekhawatiran konversi bahan bakar dari minyak tanah ke elpiji terbukti. Akibat elpiji bocor, rumah Nasiah (73), warga Desa Jetis, Kecamatan Dau, dinihari kemarin, luluh lantak. Diduga kuat, tabung ...
Kekhawatiran konversi bahan bakar dari minyak tanah ke elpiji terbukti. Akibat elpiji bocor, rumah Nasiah (73), warga Desa Jetis, Kecamatan Dau, dinihari kemarin, luluh lantak. Diduga kuat, tabung ...
DUTA MASYARAKAT, 09 Februari 2010
AHMAD Zainuri masih setia menyambung kabel demi kabel. Setelah berhasil menyambungnya dan alat detektor kebocoran gas itu berfungsi, tak lama kemudian mati lagi. Merasa kurang rapat menyambung, solder di samping kanannya diambil. Usai dipasang, alat detektor kebocoran gas hasil penelitian skripsinya itu masih belum juga berfungsi.
Baju batik yang tadinya rapi, kini tampak kumal lantaran kerja kerasnya. Keringat pun mulai bercucuran. Tapi alumnus Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang ini masih berseri-seri. Sedikit pun tak terlihat adanya keputusasaan di wajahnya. Seolah tak pernah capai, meski berkali-kali menyambung kabel kemudian putus lagi.
Maklum saja, bila menelisik ke belakang, rasa capek menyambung kabel tersebut tak sebanding dengan rasa penatnya otak saat melakukan penelitian. Membeli alat elektronik, merakitnya kemudian salah lagi. Tak hanya sekali. Hampir tak bisa dihitung kesalahan yang dilakukan Ahmad Zainuri sebelum berhasil menciptakan alat detektor gas. Tapi itulah penelitian. Mencoba dan salah itu kerap terjadi. “Alhamdulillah, sudah berfungsi alatnya. Coba lihat sirine ini berbunyi,” papar Ahmad Zainuri sambil menunjukkan sirine alat pendeteksi kebocoran gas berbunyi, Senin (8/2) kemarin.
Dengan berbunyinya sirine tersebut, berarti alat pendeksi kebocoran gas telah berfungsi. Tak hanya itu, bunyi sirine itu sekaligus menunjukkan adanya kebocoran gas. Memang, Ahmad Zainuri tak menjelaskan secara detail berapa jarak daya tangkap alat tersebut. Tapi begitu sensor gas elpiji berbunyi, berarti saat itu juga ada gas yang bocor. “Sensor inilah yang menangkap bau gas,” tuturnya sambil sesekali melap keringat di keningnya.
Pria asal Malang ini berencana akan mematenkan alat ciptaannya tersebut. Ia berharap, kelak alat yang dihasilkan ini bermanfaat bagi masyarakat. Lazimnya peneliti lain, semakin alat tersebut berguna bagi masyarakat, semakin sukses penelitian yang dihasilkan. Bukan tidak mungkin namanya juga akan dikenal.
Sebelum menciptakan alat tersebut, Ahmad Zainuri mengaku bosan melihat kebakaran. Apalagi kasus kebakaran akibat gas elpiji yang bocor kerap terjadi. Ungkapan Ahmad Zainuri memang tak berlebihan. Selama tahun 2009 saja, sebanyak 50 kasus kebakaran terjadi di Kota Malang. Rinciannya, 17 kasus di Kecamatan Klojen, 5 kali kebakaran di Blimbing, 6 kali di Kedungkandang, 11 kali di Lowokwaru dan 9 kali di Kecamatan Sukun.
Merasa bosan melihat kebakaran, Ahmad Zainuri memutar otaknya. Satu-satunya yang ada di benaknya adalah, bagaimana caranya agar kebakaran tak terjadi lagi. Paling tidak, mampu meminimalisir dengan mengetahui sejak dini. Pemikiran itu terus terlintas, sampai suatu saat kebingungan mencari judul skripsi. “Akhirnya saya berinisiatif membuat alat pendeteksi kebocoran gas,” tandasnya.
Kini , Ia telah berhasil menciptakan alat yang dicarinya selama ini. Bahan yang dipakai pun tidak rumit, hanya terdapat sensor gas elpiji, speaker sirine dan kotak kontrol. Alat kontrol ini berfungsi mengatur kerja sensor bertugas mencium bau gas dan speaker mentransformasikannya melalui suara. Biaya yang dihabiskan juga sangat murah. Untuk alat secanggih itu, Ahmad Zainuri hanya mengabiskan uang Rp 300 ribu. “Nantinya alat ini kami jual Rp 300 ribu,” katanya.
Baju batik yang tadinya rapi, kini tampak kumal lantaran kerja kerasnya. Keringat pun mulai bercucuran. Tapi alumnus Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang ini masih berseri-seri. Sedikit pun tak terlihat adanya keputusasaan di wajahnya. Seolah tak pernah capai, meski berkali-kali menyambung kabel kemudian putus lagi.
Maklum saja, bila menelisik ke belakang, rasa capek menyambung kabel tersebut tak sebanding dengan rasa penatnya otak saat melakukan penelitian. Membeli alat elektronik, merakitnya kemudian salah lagi. Tak hanya sekali. Hampir tak bisa dihitung kesalahan yang dilakukan Ahmad Zainuri sebelum berhasil menciptakan alat detektor gas. Tapi itulah penelitian. Mencoba dan salah itu kerap terjadi. “Alhamdulillah, sudah berfungsi alatnya. Coba lihat sirine ini berbunyi,” papar Ahmad Zainuri sambil menunjukkan sirine alat pendeteksi kebocoran gas berbunyi, Senin (8/2) kemarin.
Dengan berbunyinya sirine tersebut, berarti alat pendeksi kebocoran gas telah berfungsi. Tak hanya itu, bunyi sirine itu sekaligus menunjukkan adanya kebocoran gas. Memang, Ahmad Zainuri tak menjelaskan secara detail berapa jarak daya tangkap alat tersebut. Tapi begitu sensor gas elpiji berbunyi, berarti saat itu juga ada gas yang bocor. “Sensor inilah yang menangkap bau gas,” tuturnya sambil sesekali melap keringat di keningnya.
Pria asal Malang ini berencana akan mematenkan alat ciptaannya tersebut. Ia berharap, kelak alat yang dihasilkan ini bermanfaat bagi masyarakat. Lazimnya peneliti lain, semakin alat tersebut berguna bagi masyarakat, semakin sukses penelitian yang dihasilkan. Bukan tidak mungkin namanya juga akan dikenal.
Sebelum menciptakan alat tersebut, Ahmad Zainuri mengaku bosan melihat kebakaran. Apalagi kasus kebakaran akibat gas elpiji yang bocor kerap terjadi. Ungkapan Ahmad Zainuri memang tak berlebihan. Selama tahun 2009 saja, sebanyak 50 kasus kebakaran terjadi di Kota Malang. Rinciannya, 17 kasus di Kecamatan Klojen, 5 kali kebakaran di Blimbing, 6 kali di Kedungkandang, 11 kali di Lowokwaru dan 9 kali di Kecamatan Sukun.
Merasa bosan melihat kebakaran, Ahmad Zainuri memutar otaknya. Satu-satunya yang ada di benaknya adalah, bagaimana caranya agar kebakaran tak terjadi lagi. Paling tidak, mampu meminimalisir dengan mengetahui sejak dini. Pemikiran itu terus terlintas, sampai suatu saat kebingungan mencari judul skripsi. “Akhirnya saya berinisiatif membuat alat pendeteksi kebocoran gas,” tandasnya.
Kini , Ia telah berhasil menciptakan alat yang dicarinya selama ini. Bahan yang dipakai pun tidak rumit, hanya terdapat sensor gas elpiji, speaker sirine dan kotak kontrol. Alat kontrol ini berfungsi mengatur kerja sensor bertugas mencium bau gas dan speaker mentransformasikannya melalui suara. Biaya yang dihabiskan juga sangat murah. Untuk alat secanggih itu, Ahmad Zainuri hanya mengabiskan uang Rp 300 ribu. “Nantinya alat ini kami jual Rp 300 ribu,” katanya.
- dan


