JELANG PENGUKUHAN GURU BESAR UNTAG SURABAYA
Wacana di antara pembangunan dan perubahan
Baca Juga
Susno Duadji cokot MakbulSusno Duadji cokot Makbul
MANTAN Kabareskrim Polri Komjen Pol Susno Duadji blak-blakan di persidangan kasus mafia hukum dengan terdakwa Sjahril Djohan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl. Ampera Raya, Kamis (2/9) ...
MANTAN Kabareskrim Polri Komjen Pol Susno Duadji blak-blakan di persidangan kasus mafia hukum dengan terdakwa Sjahril Djohan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl. Ampera Raya, Kamis (2/9) ...
Pidato Presiden RI mengenai Dinamika RI-Malaysia (2-habis)
Pidato Presiden RI mengenai Dinamika RI-Malaysia (2-habis)
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Belajar dari pengalaman ini, pemerintah Indonesia berpendapat bahwa solusi yang paling tepat untuk mencegah dan mengatasi insiden-insiden ...
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Belajar dari pengalaman ini, pemerintah Indonesia berpendapat bahwa solusi yang paling tepat untuk mencegah dan mengatasi insiden-insiden ...
SBY dinilai seperti jubir Malaysia
SBY dinilai seperti jubir Malaysia
PIDATO Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Mabes TNI soal ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia terus menuai cibiran. SBY dinilai seperti juru bicara negeri jiran saja. “Pidato SBY selayaknya ...
PIDATO Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Mabes TNI soal ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia terus menuai cibiran. SBY dinilai seperti juru bicara negeri jiran saja. “Pidato SBY selayaknya ...
Giliran Menhub diisukan selingkuh
Giliran Menhub diisukan selingkuh
GOSIP perselingkuhan menteri terus bermunculan. Kali ini Menteri Perhubungan Freddy Numberi dikabarkan berselingkuh dengan seorang presenter sebuah stasiun televisi dengan inisial RR. Inisial ini ...
GOSIP perselingkuhan menteri terus bermunculan. Kali ini Menteri Perhubungan Freddy Numberi dikabarkan berselingkuh dengan seorang presenter sebuah stasiun televisi dengan inisial RR. Inisial ini ...
Tanpa TKI Malaysia kelimpungan
Tanpa TKI Malaysia kelimpungan
GELOMBANG tenaga kerja Indonesia (TKI) yang terusir dari Malaysia terus berdatangan di tanah air. Ratusan TKI yang baru dideportasi dari negeri jiran itu tiba di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta ...
GELOMBANG tenaga kerja Indonesia (TKI) yang terusir dari Malaysia terus berdatangan di tanah air. Ratusan TKI yang baru dideportasi dari negeri jiran itu tiba di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta ...
Panda bisa seret Miranda - Nunun
Panda bisa seret Miranda - Nunun
SEHARI setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan statusnya sebagai tersangka, politisi PDIP Panda Nababan—satu-satunya tersangka yang masih aktif sebagai anggota DPR— tidak terlihat ...
SEHARI setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan statusnya sebagai tersangka, politisi PDIP Panda Nababan—satu-satunya tersangka yang masih aktif sebagai anggota DPR— tidak terlihat ...
DUTA MASYARAKAT, 09 Februari 2010
FATKHUL AZIZ SURABAYA
Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya bakal menambah dua guru besar (gubes). Mereka adalah Prof Dr Agus Sukristyanto MS dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) dan Prof Dr Hj Tri Ratnawati SE Ak MS dari Fakultas Ekonomi (FE). Keduanya akan dikukuhkan pada 13 Pebruari mendatang.
DALAM pengu¬kuhannya nanti, Agus bakal mem¬bacakan pidato ber¬judul ‘Pembangunan dan Pe¬ru¬ba¬han Sosial’. Sedangkan Rat¬na akan membicarakan tentang ‘Standar Akuntansi Meningkatkan Kualitas Kandungan Informasi Ke¬uangan Entitas dalam Meng¬ha¬dapi Tanta¬ngan Krisis Finansial Global’.
Saat berbincang dengan warta¬wan, Agus menjelaskan proses pem¬bangunan dan perubahan sosial tak lepas dari pengaruh wacana (dis¬course). Bahkan, keberadaan waca¬na kerap menjadi alat penguasaan antar negara.
Dia mencontohkan adanya wa¬cana underdevelopment yang me¬nimbulkan pengelom¬po¬kan negara menjadi mis¬kin, sedang (berkem¬ba¬ng), dan kaya (maju).
“Wacana ini malah men¬¬jadi alat melang¬geng¬kan dominasi untuk meng¬eks¬ploitasi sua¬tu negara dan melanggengkan dominasi terhadap kaum marjinal,” bebernya.
Gubes bidang organisasi dan ad¬mi¬nistrasi internasional ini, me¬nam¬bahkan bentuk-bentuk wacana pem¬bangunan itu seperti tampak pada keberadaan organisasi-organi¬sasi ekonomi dan perdagangan. Mi¬salnya, GATT, WTO, NAFTA, APEC, CAFTA, SIJORI, Otorita Ba¬tam hingga forum-forum lebih kecil dan bersifat lokal.
“Padahal, dalam lembaga-lemba¬ga itu ada kepentingan negara-ne¬gara besar dan kepentingan bisnis da¬ri perusahan trans-nasional. Me¬reka ini mengontrol 75 persen per¬dagangan dunia,” ujarnya.
Kekangan wacana pembangunan glo¬bal itu, menurut Agus, sudah ter¬ja¬di di In¬do¬nesia. Banyak lem¬baga eko¬nomi dan per¬da¬ga¬ngan du¬nia yang mem¬be¬lenggu Indo¬ne¬sia de¬ng¬an be¬ragam per¬janjian. Se¬hing¬ga, ha¬rapan adanya peru¬bahan so¬sial ke arah yang lebih baik masih su¬kar di¬wujudkan.
Tri Ratnawati memperkuat argu¬men¬tasi Agus. Dia tak menampik adanya pengaruh kuat perusahaan-perusahaan trans nasional di In¬donesia. Hanya, keberadaan perusa¬haan trans nasional ini masih belum transparan dalam memberikan infor¬masi finansial ke publik.
Kondisi itu menimbulkan adanya pengge¬lem¬bungan keuangan yang menutupi kon¬disi perusahaan se¬benarnya. “Seolah-olah perusahaan itu sehat, padahal sakit,” tuturnya.
Gubes bidang akuntansi ini, meng¬imbuhkan ketidakte¬ruste¬ra¬ngan perusahaan itu bisa berimbas pada terjadinya krisis ekonomi. Hal itu nampak dalam krisis yang ter¬jadi pada 1997 dan 2007 di Indo¬nesia.
DALAM pengu¬kuhannya nanti, Agus bakal mem¬bacakan pidato ber¬judul ‘Pembangunan dan Pe¬ru¬ba¬han Sosial’. Sedangkan Rat¬na akan membicarakan tentang ‘Standar Akuntansi Meningkatkan Kualitas Kandungan Informasi Ke¬uangan Entitas dalam Meng¬ha¬dapi Tanta¬ngan Krisis Finansial Global’.
Saat berbincang dengan warta¬wan, Agus menjelaskan proses pem¬bangunan dan perubahan sosial tak lepas dari pengaruh wacana (dis¬course). Bahkan, keberadaan waca¬na kerap menjadi alat penguasaan antar negara.
Dia mencontohkan adanya wa¬cana underdevelopment yang me¬nimbulkan pengelom¬po¬kan negara menjadi mis¬kin, sedang (berkem¬ba¬ng), dan kaya (maju).
“Wacana ini malah men¬¬jadi alat melang¬geng¬kan dominasi untuk meng¬eks¬ploitasi sua¬tu negara dan melanggengkan dominasi terhadap kaum marjinal,” bebernya.
Gubes bidang organisasi dan ad¬mi¬nistrasi internasional ini, me¬nam¬bahkan bentuk-bentuk wacana pem¬bangunan itu seperti tampak pada keberadaan organisasi-organi¬sasi ekonomi dan perdagangan. Mi¬salnya, GATT, WTO, NAFTA, APEC, CAFTA, SIJORI, Otorita Ba¬tam hingga forum-forum lebih kecil dan bersifat lokal.
“Padahal, dalam lembaga-lemba¬ga itu ada kepentingan negara-ne¬gara besar dan kepentingan bisnis da¬ri perusahan trans-nasional. Me¬reka ini mengontrol 75 persen per¬dagangan dunia,” ujarnya.
Kekangan wacana pembangunan glo¬bal itu, menurut Agus, sudah ter¬ja¬di di In¬do¬nesia. Banyak lem¬baga eko¬nomi dan per¬da¬ga¬ngan du¬nia yang mem¬be¬lenggu Indo¬ne¬sia de¬ng¬an be¬ragam per¬janjian. Se¬hing¬ga, ha¬rapan adanya peru¬bahan so¬sial ke arah yang lebih baik masih su¬kar di¬wujudkan.
Tri Ratnawati memperkuat argu¬men¬tasi Agus. Dia tak menampik adanya pengaruh kuat perusahaan-perusahaan trans nasional di In¬donesia. Hanya, keberadaan perusa¬haan trans nasional ini masih belum transparan dalam memberikan infor¬masi finansial ke publik.
Kondisi itu menimbulkan adanya pengge¬lem¬bungan keuangan yang menutupi kon¬disi perusahaan se¬benarnya. “Seolah-olah perusahaan itu sehat, padahal sakit,” tuturnya.
Gubes bidang akuntansi ini, meng¬imbuhkan ketidakte¬ruste¬ra¬ngan perusahaan itu bisa berimbas pada terjadinya krisis ekonomi. Hal itu nampak dalam krisis yang ter¬jadi pada 1997 dan 2007 di Indo¬nesia.


