H Mar’ih Marzuki, S.Ag—Wakil Kepala Sekolah MTSN 31 Jakarta
Siap Lestarikan “Warisan” Kiai
Baca Juga
Susno Duadji cokot MakbulSusno Duadji cokot Makbul
MANTAN Kabareskrim Polri Komjen Pol Susno Duadji blak-blakan di persidangan kasus mafia hukum dengan terdakwa Sjahril Djohan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl. Ampera Raya, Kamis (2/9) ...
MANTAN Kabareskrim Polri Komjen Pol Susno Duadji blak-blakan di persidangan kasus mafia hukum dengan terdakwa Sjahril Djohan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl. Ampera Raya, Kamis (2/9) ...
Pidato Presiden RI mengenai Dinamika RI-Malaysia (2-habis)
Pidato Presiden RI mengenai Dinamika RI-Malaysia (2-habis)
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Belajar dari pengalaman ini, pemerintah Indonesia berpendapat bahwa solusi yang paling tepat untuk mencegah dan mengatasi insiden-insiden ...
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Belajar dari pengalaman ini, pemerintah Indonesia berpendapat bahwa solusi yang paling tepat untuk mencegah dan mengatasi insiden-insiden ...
SBY dinilai seperti jubir Malaysia
SBY dinilai seperti jubir Malaysia
PIDATO Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Mabes TNI soal ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia terus menuai cibiran. SBY dinilai seperti juru bicara negeri jiran saja. “Pidato SBY selayaknya ...
PIDATO Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Mabes TNI soal ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia terus menuai cibiran. SBY dinilai seperti juru bicara negeri jiran saja. “Pidato SBY selayaknya ...
Giliran Menhub diisukan selingkuh
Giliran Menhub diisukan selingkuh
GOSIP perselingkuhan menteri terus bermunculan. Kali ini Menteri Perhubungan Freddy Numberi dikabarkan berselingkuh dengan seorang presenter sebuah stasiun televisi dengan inisial RR. Inisial ini ...
GOSIP perselingkuhan menteri terus bermunculan. Kali ini Menteri Perhubungan Freddy Numberi dikabarkan berselingkuh dengan seorang presenter sebuah stasiun televisi dengan inisial RR. Inisial ini ...
Tanpa TKI Malaysia kelimpungan
Tanpa TKI Malaysia kelimpungan
GELOMBANG tenaga kerja Indonesia (TKI) yang terusir dari Malaysia terus berdatangan di tanah air. Ratusan TKI yang baru dideportasi dari negeri jiran itu tiba di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta ...
GELOMBANG tenaga kerja Indonesia (TKI) yang terusir dari Malaysia terus berdatangan di tanah air. Ratusan TKI yang baru dideportasi dari negeri jiran itu tiba di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta ...
Panda bisa seret Miranda - Nunun
Panda bisa seret Miranda - Nunun
SEHARI setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan statusnya sebagai tersangka, politisi PDIP Panda Nababan—satu-satunya tersangka yang masih aktif sebagai anggota DPR— tidak terlihat ...
SEHARI setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan statusnya sebagai tersangka, politisi PDIP Panda Nababan—satu-satunya tersangka yang masih aktif sebagai anggota DPR— tidak terlihat ...
DUTA MASYARAKAT, 06 Februari 2010
HUDA SABILY KLENDER
Di kalangan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), nama Mar’ih Marzuki sudah tidak asing lagi. Maklum, tokoh muda Jakarta ini lama berkecimpung di organisasi pelajar dan santri NU ini, khususnya di DKI Jakarta.
Sejak masih belajar di sekolah dasar, Mar’ih sudah punya bakat berorganisasi. Bakat itu hingga kini masih dikembangkannya dengan aktif di berbagai organisasi.
Di Jakarta, nama Mar’ih telah cukup mengakar. Di IPNU, ia merupakan salah satu pendiri IPNU di kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Selama menjadi aktivis, ia dikenal yang kreatif dan konsisten dalam berorganisasi. ”Saya itu pendiri IPNU di Cakung,” ujarnya.
Mar’ih lahir di Pengarengan, Jatinegara, Cakung, Jakarta Timur, 9 Februari 1968. Sejak masih belia, putra pasangan H Marzuki (alm) dan Hasyimah (almh) ini memang sudah terlihat punya banyak bakat. Karena itu, sangat maklum, jika Mar’ih dikenal sebagai aktivis yang berprestasi.
Mar’ih menamatkan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Jakarta. Kemudian, atas kemauannya sendiri, serta dorongan keluarganya, pada 1986, ia melanjutkan studinya di Madrasah Tsanawiyah (MTS) Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di pesantren tersebut, ia belajar hingga Madrasah Aliyah (MA).
“Selesai tamat SD, saya lansung masuk MTS di Tebuireng. Di situ berlanjut hingga Madrasah Aliyah,” ujar pria yang suka humor ini.
Banyak pengalaman yang didapatnya saat menjadi santri di Tebuireng. Suka dan duka pernah dialaminya. Namun, semua itu dianggapnya sebagai pelajaran untuk mencapai sukses di kemudian hari.
Setelah lulus dari Tebuireng, Mar’ih merasa punya tanggungjawab besar untuk meneruskan perjuangan tokoh panutannya, KH Hasyim Asyari. ”Jadi sebagai santri alumni pondok pesantren Tebuireng, saya harus meneruskan perjuangan beliau,” ungkapnya.
Mar’ih juga akan melestarikan ilmu dan ‘warisan’ yang ditinggalkan KH Hasyim Asyari. Baginya, hal itu sebauh kewajiban yang harus dijalaninya, yakni menjaga pesantren, keturunan dan organisasi yang didirikan, yaitu Nahdlatul Ulama (NU).
“Ibaratnya, pondok pesantren Tebuireng NU kecil dan organisasi NU itu pesantren besarnya,” katanya.
Sebagai bagian dari meneruskan perjuangan KH Hasyim Asyari, Mar’ih hingga kini masih aktif di Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta.
Jabatan yang pernah diembannya, yaitu menjabat Wakil Sekretaris dan Sekretaris. Pada dua periode kepemimpinan Fauzi Bowo di PWNU DKI, ia dipercaya masuk kepengurusan. “Saya masuk lagi menjadi pengurus PWNU DKI Jakarta,” katanya.
Mar’ih sudah dikarunia 4 anak dari perkawinannya dengan Ahyati Halim sejak 1999. Mereka adalah Achmad Jabbar Muttaqin, Muhammad Thoriq Hadad, Achmad Mikail Zamzami, dan Nahdlah Fitriyah.(*)
Sejak masih belajar di sekolah dasar, Mar’ih sudah punya bakat berorganisasi. Bakat itu hingga kini masih dikembangkannya dengan aktif di berbagai organisasi.
Di Jakarta, nama Mar’ih telah cukup mengakar. Di IPNU, ia merupakan salah satu pendiri IPNU di kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Selama menjadi aktivis, ia dikenal yang kreatif dan konsisten dalam berorganisasi. ”Saya itu pendiri IPNU di Cakung,” ujarnya.
Mar’ih lahir di Pengarengan, Jatinegara, Cakung, Jakarta Timur, 9 Februari 1968. Sejak masih belia, putra pasangan H Marzuki (alm) dan Hasyimah (almh) ini memang sudah terlihat punya banyak bakat. Karena itu, sangat maklum, jika Mar’ih dikenal sebagai aktivis yang berprestasi.
Mar’ih menamatkan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Jakarta. Kemudian, atas kemauannya sendiri, serta dorongan keluarganya, pada 1986, ia melanjutkan studinya di Madrasah Tsanawiyah (MTS) Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di pesantren tersebut, ia belajar hingga Madrasah Aliyah (MA).
“Selesai tamat SD, saya lansung masuk MTS di Tebuireng. Di situ berlanjut hingga Madrasah Aliyah,” ujar pria yang suka humor ini.
Banyak pengalaman yang didapatnya saat menjadi santri di Tebuireng. Suka dan duka pernah dialaminya. Namun, semua itu dianggapnya sebagai pelajaran untuk mencapai sukses di kemudian hari.
Setelah lulus dari Tebuireng, Mar’ih merasa punya tanggungjawab besar untuk meneruskan perjuangan tokoh panutannya, KH Hasyim Asyari. ”Jadi sebagai santri alumni pondok pesantren Tebuireng, saya harus meneruskan perjuangan beliau,” ungkapnya.
Mar’ih juga akan melestarikan ilmu dan ‘warisan’ yang ditinggalkan KH Hasyim Asyari. Baginya, hal itu sebauh kewajiban yang harus dijalaninya, yakni menjaga pesantren, keturunan dan organisasi yang didirikan, yaitu Nahdlatul Ulama (NU).
“Ibaratnya, pondok pesantren Tebuireng NU kecil dan organisasi NU itu pesantren besarnya,” katanya.
Sebagai bagian dari meneruskan perjuangan KH Hasyim Asyari, Mar’ih hingga kini masih aktif di Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta.
Jabatan yang pernah diembannya, yaitu menjabat Wakil Sekretaris dan Sekretaris. Pada dua periode kepemimpinan Fauzi Bowo di PWNU DKI, ia dipercaya masuk kepengurusan. “Saya masuk lagi menjadi pengurus PWNU DKI Jakarta,” katanya.
Mar’ih sudah dikarunia 4 anak dari perkawinannya dengan Ahyati Halim sejak 1999. Mereka adalah Achmad Jabbar Muttaqin, Muhammad Thoriq Hadad, Achmad Mikail Zamzami, dan Nahdlah Fitriyah.(*)


