Sumpah, fitnah, dan ‘assassination’ sebagai instrumen politik
Duta Masyarakat | 04 Februari 2010
Baca Juga
SBY ‘lapor’ dulu ke AustraliaSBY ‘lapor’ dulu ke Australia
SAAT rakyat Indonesia belum mendapat jawaban atas misteri mayat yang diduga teroris di Pamulang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengumumkan ke publik Australia bahwa aparat Densus 88 ...
SAAT rakyat Indonesia belum mendapat jawaban atas misteri mayat yang diduga teroris di Pamulang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengumumkan ke publik Australia bahwa aparat Densus 88 ...
DPR ancam sunat dana KPK
DPR ancam sunat dana KPK
LAMBANNYA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menindaklanjuti rekomendasi Pansus skandal Bank Century membuat inisiator Hak Angket Century dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Eva ...
LAMBANNYA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menindaklanjuti rekomendasi Pansus skandal Bank Century membuat inisiator Hak Angket Century dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Eva ...
ICW laporkan dua politisi PDIP
ICW laporkan dua politisi PDIP
Indonesia Corruption Watch (ICW) akan mengadukan dua anggota DPR asal FPDIP Panda Nababan dan Tjahjo Kumolo ke Badan Kehormatan DPR. Hal ini dilakukan sebab dua anggota Dewan aktif tersebut diduga ...
Indonesia Corruption Watch (ICW) akan mengadukan dua anggota DPR asal FPDIP Panda Nababan dan Tjahjo Kumolo ke Badan Kehormatan DPR. Hal ini dilakukan sebab dua anggota Dewan aktif tersebut diduga ...
Densus kejar teroris ke Solo
Densus kejar teroris ke Solo
YAHYA IBRAHIM, pria yang tewas dalam penyergapan Densus 88 di Jl. Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan, ternyata juga jago membuat bom. Soal membuat bom, Yahya malah lebih mahir dari “sang elmaut” ...
YAHYA IBRAHIM, pria yang tewas dalam penyergapan Densus 88 di Jl. Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan, ternyata juga jago membuat bom. Soal membuat bom, Yahya malah lebih mahir dari “sang elmaut” ...
20 teroris Aceh diumumkan
20 teroris Aceh diumumkan
MARKAS Besar Kepolisian Republik Indonesia telah melakukan penangkapan dan menembak teroris di Aceh. Dalam jumpa pers di Mabes Polris, Rabu (10/3), Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri ...
MARKAS Besar Kepolisian Republik Indonesia telah melakukan penangkapan dan menembak teroris di Aceh. Dalam jumpa pers di Mabes Polris, Rabu (10/3), Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri ...
Dua bos Century disidang in absentia
Dua bos Century disidang in absentia
DUA tersangka kasus Bank Century, Hesham Al Warraq dan Rafat Ali Rizvi, segera menjalani sidang perdana. Namun, keduanya akan disidang secara in absentia pada 18 Maret 2010 di Pengadilan Negeri ...
DUA tersangka kasus Bank Century, Hesham Al Warraq dan Rafat Ali Rizvi, segera menjalani sidang perdana. Namun, keduanya akan disidang secara in absentia pada 18 Maret 2010 di Pengadilan Negeri ...
oleh: MOH SHOLEH BASYARI
Direktur An-Nahdlah Institute, Surabaya; menyelesaikan Magister Politik Islam Klasik dari IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Belakangan ini, sumpah, fitnah dan character assassination marak meluncur deras dari pernyataan sejumlah pejabat. Mulai warning dari Presiden Sosilo Bambang Yudhayono (SBY), sumpah Komjen Susno Duadji (mantan Kabareskrim), hingga pernyataan serupa dari politisi dan pejabat yang tersangkut urusan hukum. Artikel berikut dimaksudkan sebagai upaya melacak arkeologi istilah dan konsep sumpah, fitnah, dan assassination sebagai instrumen politik.
Sebagai instumen politik, sumpah sejatinya dibedakan atas dua hal: sumpah qasam dan sumpah baiat.
Sumpah qasam adalah sumpah yang dilakukan seseorang untuk meyakinkan pihak lain bahwa ia melakukan atau tidak melakukan tindakan tertentu, yang memiliki efek yuridis bagi dirinya atau pihak lain.
Sumpah semacam ini, secara praktis, diangggap sah manakala dilafalkan dengan rangkaian kalimat yang diawali dari huruf qasam. Huruf qasam itu hanya terdiri tiga huruf dalam abjad Arab: B (ba’), T (ta’) dan W (waw).
Berikut contoh kalimat sumpah qasam: billahi saya bersumpah telah menerima suap sebesar Rp 10 miliar, atau tallahi saya bersumpah tidak pernah menerima uang Rp 10 miliar, dan wallahi saya bersumpah akan melaksanakan tugas sebagai pejabat negara dan memanggul amanat rakyat.
Sumpah seperti yang dilakukan Komjen Susno Duadji di DPR, yang berbunyi “lillahi ta’ala saya tidak pernah menerima duit 10 miliar”, bukan termasuk sumpah dalam kategori instrumen politik. Meski awalnya dimaksudkan sebagai instrumen politik, sumpah itu batal karena tidak memenuhi salah satu unsur, yakni penyebutan yang tidak menggunakan huruf qasam (B, T dan W). “L” dalam kalimat Susno “lillahi ta’ala” bermakna keikhlasan dan bukan merupakan huruf qasam.
Sedangkan sumpah baiat adalah kontrak atau perjanjian tak tertulis, berupa pengakuan atas atau sumpah setia kepada: seorang khalifah, penguasa, raja atau amir. Sumpah ini biasanya diberikan atas nama rakyat oleh tokoh suku, marga atau klan.
Ketika wakil-wakil suku ini membuat perjanjian dengan penguasa, mereka melakukan hal itu dengan pengertian bahwa sepanjang penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya, mereka setia kepadanya. Para wakil itu umumnya ulama, pemimpin politik, dan kadang-kadang tetua marga. Baiat juga berupa permohonan para wakil rakyat agar Allah melimpahkan berkah atau ridha-Nya kepada penguasa mereka.
Frase Arab yang bermakna permohonan berkah atau ridha ini, yaitu Radhiya Allah ‘anhu (mudah-mudahan Allah ridha atasnya), berasal dari masa Nabi Muhammad dan sahabatnya. Frase ini digunakan juga pada masa para khalifah. Kata ridhwan artinya Tuhan berkenan terhadap penguasa yang dibaiat oleh rakyatnya dan ridha kepadanya. Penguasa itu pada hakikatnya menerima ridha Tuhan.
Nabi Muhammad sendiri menerima janji setia dari pengikutnya secara perorangan pada 628 di Hudaibiyah, sebuah tempat antara Jeddah dan Makkah, ketika bersiap-siap hendak berhaji ke Makkah. Sumpah setia kepada Nabi itu dikenal dengan “baiat keridhaan” atau ba’iat al-ridhwan.
Pada masa sekarang, baiat masih dipraktikkan di sejumlah negara, seperti Arab Saudi, khususnya saat penobatan raja. Baiat juga dilaksanakan oleh para pengikut tarekat kepada mursyidnya.
Hasyasyin
Dalam sejarah Barat, hasyasyin dilafalkaan dengan assassins diartikan sebagai kaum pembunuh. Dari pelafalan inilah pembunuhan karakter sebagai instrumen politik dikenal dengan character assassination. Padahal mulanya, hasyasyin adalah salah satu sekte Syiah Ismailiah, disebut juga Nizariah karena sekte ini mendukung Nizar al-Mustansir, putra sulung al-Mustansir (khalifah Fatimiah, 427-487 H/1036-1094 M).
Kata hasyasyin berasal dari kata Arab hasysyasyiyyun atau hasysyasyiyyin yang artinya para pengguna hasyis (sejenis tumbuhan pembius dan pengantar mabuk). Pada masa Perang Salib, kelompok hasyasyin menduduki benteng-benteng wilayah perbukitan Suriah dan Iran barat laut. Dalam menghadapi musuh, mereka menggunakan kekerasan.
Pendiri hasyasyin adalah Hasan bin Sabbah. Ia taat menunaikan semua aturan agama dan tidak membolehkan orang mabuk, menari atau bermain musik dalam lingkungan kekuasaannya. Pengikut hasyasyin dalam sejarah Islam kadang-kadang disebut kaum Ismailiah Timur atau Alamutiah atau Malahidah dari Kuhistan (“ateis” dari Kuhistan).
Alamut terletak di puncak bukit yang amat sulit dicapai. Karena strategisnya, benteng itu disebut “Sarang Rajawali” (the Eagle’s Nest). Hasan bin Sabbah menguasai benteng Alamut selama 35 tahun. Dari tempat itu ia mengendalikan sistem teror ke seluruh Asia, Afrika, dan Eropa Timur, melawan pedang dengan belati, dan membalas penganiayaan dengan pembunuhan.
Pada abad modern sisa-sisa pengikut Hasyasyin muncul kembali dengan cukup mengejutkan di bawah komando imam-imam mereka, Aga Khan Muhammad Syah al-Hali atau Aga Khan III (1877-1957) dan Aga Khan Abdul Karim (cucu Aga Khan III, sejak 1957). Kedua tokoh tersebut banyak berperan memperkenalkan kemajuan aktivitas Ismailiah Nizariah di dunia Islam dan dunia Ketiga pada umumnya. Karena itu, penerus Hasyasyin dikenal juga dengan nama Agakhanis.
Jumlah mereka di seluruh dunia diperkirakan mendekati 20 juta, yang tersebar di berbagai negara di Asia (terutama di pantai barat India; mereka menamakan diri kaum “Khojah”), Timur Tengah, Barat, dan di Zanzibar. Mereka hidup membaur dengan sekte Syiah lainnya, bahkan dengan masyarakat Islam yang mayoritas Suni meskipun harus menyembunyikan identitas mereka.
Pengikut Hasyasyin dapat dibedakan ke dalam beberapa tingkatan: al-fida’i (teman), ar-rafiq (sahabat), ad-da’i (pahlawan), ad-da’i al-kabir (pahlawan besar), dan da’i ad-du’ah (guru agung). Hasan bin Sabbah sendiri adalah Guru Agung Pertama (1090-1124).
Para pemimpin Hasyasyin menuntut kesetiaan pengikutnya dengan membuat mereka mabuk kepayang dengan hasyis. Dengan cara ini mereka merasakan kenikmatan dan kegirangan dalam “surga”, sehingga seorang pengikut Hasyasyin bersedia mati untuk memperoleh kembali kenikmatan “surgawi” itu.
Arti-arti berbeda
Fitnah berasal dari bahasa Arab, berarti kekacauan, bencana, syirik, cobaan, ujian, dan siksaan. Dalam Al-Quran, kata fitnah disebutkan pada 34 tempat, dan digunakan untuk arti-arti yang berbeda. Fitnah dalam bahasa Indonesia dipahami sebagai berita bohong dan desas-desus tentang seseorang, karena ada maksud-maksud yang tidak baik dari pembuat fitnah terhadap sasaran fitnah.
Perang saudara sesama umat Islam juga dikenal sebagai fitnah. Literatur sejarah mencatat bahwa peristiwa pembunuhan Usman RA, khalifah yang ketiga sepeninggal Nabi SAW, adalah peristiwa al-fitnah al-kubra (fitnah besar) yang pertama dan peperangan antara Mu’awiyah dan Ali RA sebagai al-fitnah al-kubra yang kedua. Inilah gambaran fitnah buta dan tuli, karena mereka sama-sama Islam tanpa melihat siapa sebenarnya yang benar.
Al-Quran menggambarkan bahwa fitnah lebih kejam dan lebih besar daripada pembunuhan (QS 2:191, 217). Fitnah di sini digambarkan sebagai usaha menimbulkan kekacauan seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka, menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama. Fitnah bisa pula berarti siksaan, ujian atau cobaan seperti dijelaskan dalam surat al-Anfal ayat 25 dan 28.
Secara etis, nilai-nilai Islam memerintahkan agar semua pihak menghindari fitnah (yang timbul karena pembicaraan yang salah) karena terpelesetnya lisan adalah ibarat terpelesetnya pedang. Fitnah jenis inilah yang belakangan marak terjadi dan disebut berulang-ulang oleh SBY dalam sejumlah kesempatan.
Pengertian fitnah yang menonjol adalah perpecahan yang timbul akibat saling permusuhan, yang berakibat terjadinya saling membunuh dan akibat dari kebodohan serta kecongkakan. Menyikapi beragam fitnah, Nabi Saw memberi tips cukup dengan memohon perlindungan kepada Allah dari akibat buruk fitnah dengan doa “a’uzu bi Allahi min su’i al-fitani” aku berlindung kepada Allah dari buruknya fitnah. Wallahu a’lam.



