Duta Masyarakat
Jumat, 12 Maret 2010 | 02:28:02 WIB

 INDEKS ARTIKEL 

TANGGAL: / /

 TOP 10 

  • Reaktor nuklir   (296)
    Reaktor nuklir
    Energi yang dihasilkan dalam reaksi fisi nuklir dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang berguna. Untuk itu, reaksi fisi harus berlangsung secara terkendali di dalam sebuah reaktor nuklir. Sebuah ...

  • Posko Sehat dongkrak Tolak Angin   (294)
    Posko Sehat dongkrak Tolak Angin
    PROGRAM posko sehat yang digelar di beberapa kota di Jatim berdampak signifikan terhadap pasar Tolak Angin di Jatim. Dalam tiga bulan terakhir omzet Tolak Angin naik hingga 40% dibanding bulan-bulan ...

  • Kemelut Undar masih berlangsung   (294)
    Kemelut Undar masih berlangsung
    SETELAH sekitar sebulan lalu Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang dari kubu rektor KH Mujib Musta’in menggelar acara wisuda, di tempat yang sama, Minggu (20/12) kemarin, kubu H Lukman Hakim ...

  • Langkah nyata membumikan Pancasila sebagai jatidiri bangsa   (283)
    Langkah nyata membumikan Pancasila sebagai jatidiri bangsa
    Menjelang tutup tahun 2009, Dian Kemala, organisasi purnawirawan Polri, mengadakan Sarasehan Implementasi Pancasila dalam Pembentukan Karakter Bangsa. Kami telah diminta mengantar pembahasan ...

  • Mengikis kekerasan di lingkungan sekolah   (278)
    Mengikis kekerasan di lingkungan sekolah
    MASALAH kekerasan di sekolah sepertinya tak pernah lenyap dari dunia pendidikan kita. Kekerasan yang kerap terjadi itu semakin mengukuhkan pandangan bahwa ada yang tidak beres dalam sistem pendidikan ...

  • Ibadah sesuai tuntunan   (269)
    Ibadah sesuai tuntunan
    Beberapa waktu lalu muncul polemik mengenai salat dengan menggunakan bahasa Arab dan Bahasa Indonesia secara bersamaan. Patut kiranya dicermati persoalan yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai ...

  • NU butuh manager, siapakah dia?   (269)
    NU butuh manager, siapakah dia?
    Setelah lama tak berkomentar soal figure-figur yang maju sebagai Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, Katua Umum PBNU saat ini akhirnya buka suara soal kreteria figur yang tepat untuk mengisi posisi ...

  • NU Perlu Perkuat Kaderisasi di Semua Tingkatan   (268)
    NU Perlu Perkuat Kaderisasi di Semua Tingkatan
    Di usianya yang telah menginjak 80 tahun lebih, NU menghadapi beberapa masalah. Persoalan paling utama yang dihadapi NU saat ini, adalah kaderisasi yang lemah. Itu salah satu masalah yang hingga kini ...

  • Perusahaan penyalur pembantu panen   (265)
    Perusahaan penyalur pembantu panen
    Memasuki masa libur Lebaran, biro jasa penyalur pembantu akan kebanjiran order permintaan pembantu rumah tangga. Kebutuhan pembatu ini meningkat karena banyak pembantu rumah tangga mudik pada ...

  • Demo 100 hari SBY dimulai   (265)
    Demo 100 hari SBY dimulai
    PULUHAN aktivis PC PMII Bojonegoro (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) menggelar aksi, Rabu (27/1) kemarin sebagai bentuk ketidakpuasan mereka terhadap pemerintahan SBY–Boediono dalam memimpin ...

  • Bagikan di Facebook
    ukuran teks: +besarkan -kecilkan
    Opini
    Mengelola koalisi ‘error’

    Duta Masyarakat | 03 Februari 2010
    JANPATAR SIMAMORA, SH 
     Baca Juga 
    Kaki tangan Dulmatin diobrak-abrik
    Kaki tangan Dulmatin diobrak-abrik
    MABES Polri membenarkan telah menangkap lagi kawanan teroris di Solo Jawa Tengah. Namun Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri belum bersedia menjelaskan soal penangkapan tersebut. Setelah ...

    Sidang Udju ungkap tiga nama baru
    Sidang Udju ungkap tiga nama baru
    TERDAKWA kasus dugaan suap kasus pemilihan Deputi Gubernur Senior BI tahun 2004, Udju Djuhaeri, menjalani persidangan perdana di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (11/3) kemarin. Dalam persidangan ...

    Fraksi PPP minta maaf ke SDA
    Fraksi PPP minta maaf ke SDA
    SETELAH mengambil pilihan sikap berbeda dengan kebijakan partainya, F-PPP DPR akhirnya meminta maaf kepada DPP PPP yang dipimpin Suryadharma Ali (SDA). Surat tersebut dilayangkan hanya sehari setelah ...

    DPR minta siswa puasa facebook
    DPR minta siswa puasa facebook
    Ujian Nasional (unas) untuk siswa SMA akan digelar pada 22 Maret mendatang. Untuk itu, agar sukses menempuh ujian, para pelajar diimbau puasa facebook.

    “Para pelajar agar puasa nonton ...

    Kasus Rieke Diah Pitaloka lemah
    Kasus Rieke Diah Pitaloka lemah
    TERTUDUH kasus pelecehan seksual, dr Rasyidin, angkat bicara. Sang dokter membantah tuduhan telah melakukan pelecehan seksual terhadap Rieke Diah Pitaloka. Menurut dr Rasyidin, dirinya tidak pernah ...

    Teroris ‘incar’ Obama
    Teroris ‘incar’ Obama
    TNI mengendus indikasi bahaya saat Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Hussein Obama berkunjung ke Indonesia 23 Maret mendatang. Namun potensi kerawanan tersebut terus diantisipasi aparat keamanan ...


    Guncangan yang mahadahsyat terhadap perjalanan karier pemerintahan Susilo Bambang Yodhoyono (SBY)-Boediono seakan tidak ada habisnya. Berbagai tekanan dan problem datang bertubi-tubi setiap saat siap meluluhlantakkan dan memorakmorandakan bangunan kekuasaan yang dibidani oleh penguasa yang mendapat mandat langsung dari rakyat ini. Tentu hal ini patut menjadi pelajaran berharga bagi bangsa ini. Ternyata dukungan mayoritas publik pada saat pilpres tahun lalu tidak selamanya berkorelasi dengan perjalanan waktu.

    Namun demikian, SBY sendiri sebenarnya sudah mengantisipasi fenomena ini. Setidaknya hal ini tercermin dari kewaspadaannya dalam membangun suatu pemerintahan yang tidak hanya kokoh di sektor publik yang kental dengan politik pencitraan, melainkan juga sampai merambah ke parlemen. Walau mayoritas rakyat telah memberi mandat kepada SBY untuk me-manage bangsa ini selama lima tahun ke depan, ternyata SBY tidak berpuas diri sampai di situ.

    Kesadarannya untuk membangun pemerintahan yang solid menjadi dasar pertimbangannya merangkul parlemen. Partai Demokrat yang dikomandani SBY sendiri telah mampu menyedot simpati publik dan berhasil menobatkannya sebagai pemenang pada pemilihan anggota legislatif tahun lalu. Kekuatan parpol penguasa ini semakin tak tertandingi ketika SBY berhasil membangun komposisi koalisi yang telah menyedot lebih dari 70 persen suara di parlemen.

    Tidak setara
    Dengan kekuatan yang demikian, pemerintahan SBY hampir saja mampu mematenkan diri menjadi penguasa tanpa kontrol. Namun sayangnya, besarnya gaung koalisi yang dibangun tidak setara dengan amunisi yang dimiliki parpol koalisi. Pengguliran angket Century menjadi fakta otentik betapa lemahnya semangat juang lingkaran koalisi.

    Postur tubuh koalisi yang gemuk dan sehat karena didukung mayoritas suara di parlemen tidak dimbangi dengan kekuatan yang benar-benar memadai. Maka koalisi pun tidak mampu menyokong dan memagari SBY dari serangan kaum oposan. Impiannya untuk duduk dalam kursi kekuasaan dengan pondasi permanen menjadi kabur. Justru koalisi hanya mampu mendudukkannya dalam kursi reot yang rapuh dan rentan dengan guncangan.

    Demikian juga dengan KIB II —yang cukup banyak mengadopsi suara parpol— juga tak kuasa menahan guncangan yang ada. Sebagai konsekuensinya, walau tataran konseptualnya mampu mengelabui publik, implementasinya justru nihil. Akhirnya, publik pun hanya bersedia memberikan nilai merah terhadap program 100 hari yang digulirkan SBY.

    Carut-marut
    Kini timbul pertanyaan, adakah yang salah dengan sistem pengelolaan pemerintahan saat ini? Mengapa penguasa yang mendapat legitimasi cukup solid dari rakyat, namun tidak mampu memberikan ketenteraman bagi publik, setidaknya untuk menghantarkan SBY dalam pusaran kekuasaan yang kokoh?

    Harus diakui bahwa saat ini kita hidup dalam sistem politik yang carut-marut. Sistem presidensial yang selalu diklaim sebagai landasan bernegara dan perpolitikan di Indonesia ternyata tak luput dari warna sari sistem lainnya. Di satu sisi kita mengklaim bahwa sistem negara kita adalah presidensial, namun di sisi lain kita juga mengadopsi sistem parlementer.

    Sebagai konsekuensinya, ketika tiba pada tatanan implementasi, segala aturan dan sistem yang ada pun diadopsi. Tergantung dari hasrat penguasa untuk menganut alternatif sesuai dengan selera politiknya. Teorinya boleh saja mujarab, namun ketika tidak dibarengi dengan praktik yang tepat, hasilnya tidak jarang malah melahirkan kiamat dan memunculkan musibah.

    Istilah koalisi dan oposisi sebenarnya tidak dikenal dalam sistem pemerintahan yang menganut presidensial. Kalaupun kini muncul istilah itu, semata-mata hanya karena permintaan undang-undang yang mengisyaratkan pencalonan presiden dan wakil presiden yang mematok suara hingga 25 persen. Tentu dalam sistem multipartai, angka 25 persen suara parpol menjadi batu sandungan yang cukup tajam, sehingga koalisi menjadi solusi.

    Lalu digagaslah koalisi untuk menggenapi utang kepada undang-undang. Sampai di sini, sebenarnya sudah terjadi pembohongan publik karena parpol telah melakukan pembelokan suara rakyat. Platform koalisi yang dibangun parpol bukan lagi berorientasi pada kepentingan rakyat, melainkan semata-mata untuk mengejar kekuasaan.

    Sejak tahap inilah, esensi dari perpolitikan menjadi kehilangan arah dan makna. Fox populi fox dei hanya menjadi alat untuk meraih legitimasi kekuasaan, sementara sasaran tembak yang diamanatkan publik telah dihapus dari agenda para elite parpol.

    Akhirnya, koalisi yang lahir pun menjadi sangat rapuh karena sekadar untuk menuju pusaran kekuasaan. Hal ini juga yang saat ini sedang menimpa KIB II. Walau penguasa telah mengadopsi permintaan para parpol koalisi di kabinet, kebijakan politik demikian tidak bisa menjamin bahwa parpol koalisi akan berada dalam genggaman pemerintah.

    Kini, baik parpol koalisi maupun oposisi sama-sama menggonggongi pemerintah dalam kasus penalangan (bailout) Bank Century. Bahkan isu pemakzulan sudah mulai digulirkan walaupun sebenarnya opsi ini masih sebatas wacana. Tentu semua ini di luar perkiraan banyak pihak. Pasalnya lingkaran kekuasaan istana sudah dibangun kokoh sebelumnya, mulai mandat mayoritas rakyat sampai pada koalisi yang cukup gemuk di parlemen.

    Namun, faktanya, koalisi hanya tinggal koalisi. Tidak ada amunisi yang ampuh bagi pemerintahan SBY-Boediono dari koalisi dalam rangka membendung serangan oposisi. Bahkan koalisi yang dibangun SBY seolah kehilangan induk, tidak terorganisasi dan kehilangan nota kesepahaman. Demokrat yang diharapkan menjadi induk bagi anggota koalisi ternyata gagal membangun kordinasi yang cukup valid. Hal ini bisa jadi ditengarai lantaran ketidakmahiran Demokrat menyusun peta perpolitikan yang solid.

    Di sinilah istilah koalisi menjadi tidak mengandung makna. Seyogianya, SBY menyadari masalah ini, bahwa koalisi yang dikelolanya sesungguhnya hanyalah koalisi error (yang salah) dan rapuh, karena motivasinya hanyalah kekuasaan. Potret politik kali ini semakin mengokohkan bahwa kesalahan membangun sistem akan berimplikasi fatal pada output yang sama.
    •