Duta Masyarakat
Kamis, 11 Maret 2010 | 14:39:55 WIB

 INDEKS ARTIKEL 

TANGGAL: / /

 TOP 10 

  • Posko Sehat dongkrak Tolak Angin   (293)
    Posko Sehat dongkrak Tolak Angin
    PROGRAM posko sehat yang digelar di beberapa kota di Jatim berdampak signifikan terhadap pasar Tolak Angin di Jatim. Dalam tiga bulan terakhir omzet Tolak Angin naik hingga 40% dibanding bulan-bulan ...

  • Kemelut Undar masih berlangsung   (291)
    Kemelut Undar masih berlangsung
    SETELAH sekitar sebulan lalu Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang dari kubu rektor KH Mujib Musta’in menggelar acara wisuda, di tempat yang sama, Minggu (20/12) kemarin, kubu H Lukman Hakim ...

  • Reaktor nuklir   (287)
    Reaktor nuklir
    Energi yang dihasilkan dalam reaksi fisi nuklir dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang berguna. Untuk itu, reaksi fisi harus berlangsung secara terkendali di dalam sebuah reaktor nuklir. Sebuah ...

  • Langkah nyata membumikan Pancasila sebagai jatidiri bangsa   (281)
    Langkah nyata membumikan Pancasila sebagai jatidiri bangsa
    Menjelang tutup tahun 2009, Dian Kemala, organisasi purnawirawan Polri, mengadakan Sarasehan Implementasi Pancasila dalam Pembentukan Karakter Bangsa. Kami telah diminta mengantar pembahasan ...

  • Mengikis kekerasan di lingkungan sekolah   (273)
    Mengikis kekerasan di lingkungan sekolah
    MASALAH kekerasan di sekolah sepertinya tak pernah lenyap dari dunia pendidikan kita. Kekerasan yang kerap terjadi itu semakin mengukuhkan pandangan bahwa ada yang tidak beres dalam sistem pendidikan ...

  • NU Perlu Perkuat Kaderisasi di Semua Tingkatan   (268)
    NU Perlu Perkuat Kaderisasi di Semua Tingkatan
    Di usianya yang telah menginjak 80 tahun lebih, NU menghadapi beberapa masalah. Persoalan paling utama yang dihadapi NU saat ini, adalah kaderisasi yang lemah. Itu salah satu masalah yang hingga kini ...

  • NU butuh manager, siapakah dia?   (268)
    NU butuh manager, siapakah dia?
    Setelah lama tak berkomentar soal figure-figur yang maju sebagai Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, Katua Umum PBNU saat ini akhirnya buka suara soal kreteria figur yang tepat untuk mengisi posisi ...

  • Ibadah sesuai tuntunan   (266)
    Ibadah sesuai tuntunan
    Beberapa waktu lalu muncul polemik mengenai salat dengan menggunakan bahasa Arab dan Bahasa Indonesia secara bersamaan. Patut kiranya dicermati persoalan yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai ...

  • Perusahaan penyalur pembantu panen   (263)
    Perusahaan penyalur pembantu panen
    Memasuki masa libur Lebaran, biro jasa penyalur pembantu akan kebanjiran order permintaan pembantu rumah tangga. Kebutuhan pembatu ini meningkat karena banyak pembantu rumah tangga mudik pada ...

  • Demo 100 hari SBY dimulai   (263)
    Demo 100 hari SBY dimulai
    PULUHAN aktivis PC PMII Bojonegoro (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) menggelar aksi, Rabu (27/1) kemarin sebagai bentuk ketidakpuasan mereka terhadap pemerintahan SBY–Boediono dalam memimpin ...

  • Bagikan di Facebook
    ukuran teks: +besarkan -kecilkan
    Diskusi Reboan
    Tiga incumbent bersaing pimpin NU

    Duta Masyarakat | 08 Desember 2009
    M Arief Hidayat  JAKARTA
     Baca Juga 
    SBY ‘lapor’ dulu ke Australia
    SBY ‘lapor’ dulu ke Australia
    SAAT rakyat Indonesia belum mendapat jawaban atas misteri mayat yang diduga teroris di Pamulang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengumumkan ke publik Australia bahwa aparat Densus 88 ...

    DPR ancam sunat dana KPK
    DPR ancam sunat dana KPK
    LAMBANNYA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menindaklanjuti rekomendasi Pansus skandal Bank Century membuat inisiator Hak Angket Century dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Eva ...

    ICW laporkan dua politisi PDIP
    ICW laporkan dua politisi PDIP
    Indonesia Corruption Watch (ICW) akan mengadukan dua anggota DPR asal FPDIP Panda Nababan dan Tjahjo Kumolo ke Badan Kehormatan DPR. Hal ini dilakukan sebab dua anggota Dewan aktif tersebut diduga ...

    Densus kejar teroris ke Solo
    Densus kejar teroris ke Solo
    YAHYA IBRAHIM, pria yang tewas dalam penyergapan Densus 88 di Jl. Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan, ternyata juga jago membuat bom. Soal membuat bom, Yahya malah lebih mahir dari “sang elmaut” ...

    20 teroris Aceh diumumkan
    20 teroris Aceh diumumkan
    MARKAS Besar Kepolisian Republik Indonesia telah melakukan penangkapan dan menembak teroris di Aceh. Dalam jumpa pers di Mabes Polris, Rabu (10/3), Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri ...

    Dua bos Century disidang in absentia
    Dua bos Century disidang in absentia
    DUA tersangka kasus Bank Century, Hesham Al Warraq dan Rafat Ali Rizvi, segera menjalani sidang perdana. Namun, keduanya akan disidang secara in absentia pada 18 Maret 2010 di Pengadilan Negeri ...


    Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) di Makassar, Sulawesi Selatan, baru akan digelar pada 22-27 Maret 2010. Masih empat bulan lagi. Namun, kini sudah mulai bermunculan nama-nama yang disebut-sebut bakal maju menjadi ketua umum Pengurus Besar NU menggantikan KH Hasyim Muzadi. Sedikitnya, ada enam nama. Di antaranya, KH Said Aqil Siroj, Masdar Farid Mas’udi, Ahmad Bagdja, KH Salahuddin Wahid, Slamet Effendy Yusuf, dan Ulil Abshar Abdalla.

    Tiga nama pertama adalah incumbent atau masih menduduki posisi penting di struktural PBNU. Ketiganya merupakan ketua PBNU yang merupakan para pejabat teras pembantu Ketua Umum, KH Hasyim Muzadi.

    Said Aqil, meski sejauh ini belum pernah menyatakan secara tegas siap mencalonkan diri, namun dalam banyak kesempatan, ia mulai memperkenalkan visi dan misi maupun program untuk memajukan NU di masa mendatang.

    Salah satu program utamanya jika dirinya dipercaya memimpin NU adalah masalah pengkaderan di berbagai bidang. Dia mengaku merindukan NU di masa kepemimpunan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) karena semua badan otonom dan lembaga di NU selalu ada kegiatan pengkaderan.

    “Pengkaderan di NU jauh lebih penting daripada urusan politik,” tegas Kang Said, begitu panggilan akrabnya dalam sebuah kesempatan di Kudus, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

    Mengenai masalah politik, Kang Said mengakui bahwa NU belakangan terlihat terlalu berorientasi politik praktis-kekuasaan. Namun, menurutnya, hal tersebut terjadi karena banyak faktor. Salah satunya adalah tidak adanya penafsiran yang sama atas rumusan Khittah NU 1926. Khittah, selama ini dijadikan alat bagi kader NU hanya untuk mendapatkan dukungan dari warga NU.

    Berbeda dengan Kang Said, Masdar Farid Mas’udi menilai, rumusan Khittah NU 1926 itu harus disesuaikan dengan perkembangan jaman. Khittah, ketika dirumuskan dan dalam perkembangannya, terutama selama masa Orde Baru, jelas berbeda dengan sekarang.

    Menurutnya, saat itu, konsep kembali ke Khittah yang dirumuskan dalam Muktamar ke-27 Situbobondo, Jawa Timur, pada 1984, sebagai akibat memburuknya hubungan NU dengan penguasa. NU memosisikan diri ‘berhadapan’ dengan Orde Baru. "Jadi, kembali ke Khittah waktu itu (salah satunya) lebih pada mencairkan kebekuan antara NU dan penguasa," katanya baru-baru ini.

    Sekarang kondisinya berbeda. NU tak lagi ‘berhadapan’ dengan penguasa. Ruang kebebasan pun sangat terbuka lebar. Maka, bagi NU, Khittah itu harus diarahkan untuk benar-benar ‘merawat’ atau memberdayakan umat, terutama kalangan nahdliyin (warga NU). Memberdayakan ekonomi nahdliyyin juga merupakan bagian dari Khittah.

    "Apalagi saat ini banyak bermunculan gerakan Islam radikal. Sebagai organisasi dengan massa terbesar NU harus kembali ke Khittah untuk melawan semua itu," tegas Masdar.

    Berkaitan dengan gerakan Islam radikal itu, ia menginginkan NU melakukan labelisasi pada semua asetnya, seperti masjid, musola, pesantren, sekolah, dan rumah sakit. Sebab, tidak sedikit aset-aset NU, terutama masjid dan musola yang didirikan kalangan nahdliyin, yang mulai diambil alih oleh kelompok Islam radikal tersebut.

    Tak hanya itu. Labelisasi itu penting agar kiprah dan peran NU di masyarakat lebih terlihat. NU memang organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia. Namun, “Kebesaran NU selama ini baru ‘terdengar’, belum ‘terlihat’.” Selama ini, NU di daerah terlihat enggan memberi label organisasi pada aset-aset yang dimiliki. Hal itu terjadi karena, salah satunya, terkait trauma sejarah selama masa rezim Orde Baru.

    Maka, satu langkah konkret yang akan dilakukannya apabila dipercaya menjadi ketua umum PBNU adalah labelisasi aset-aset NU.

    Lain lagi dengan Ahmad Bagdja. Menurut pria yang sudah 25 tahun mengabdi di NU itu, masalah penting yang harus diperbaiki NU ke depan, adalah perkara pola hubungan antara dewan Syuriyah dengan Tanfidziyah.

    Ia menilai, selama ini, pola hubungan keduanya belum tepat, sehingga dalam beberapa kesempatan terjadi ketidakselarasan. “Saya lebih memikirkan model (hubungan) Syuriyah dan Tanfidziyah, seperti apa yang cocok untuk NU ke depan,” katanya.

    Perbaikan pola hubungan Syuriyah-Tanfidziyah itu merupakan bagian dari upaya penguatan organisasi. Sebab, konsep pengembangan organisasi dalam bentuk apa pun, kalau tidak didukung pola hubungan di dalam struktur organisasi yang kuat, tentu tak akan berjalan maksimal.

    Jika pola hubungan itu sudah tepat dan efektif, maka beragam persoalan ketidakselarasan kinerja antar-badan otonom (badan otonom), lembaga maupun lajnah, yang selama ini terjadi, juga akan terselesaikan.

    “Satu indikator keberhasilan kita: NU adalah organisasi, maka ia harus tunduk pada kaidah organisasi. Fungsi organisasi bisa berjalan dengan baik. Tanfidziyyah, Syuriyah, banom-banom harus berjalan dengan baik” Ahmad Bagdja.

    Ia ingin ada rumusan baru tentang model organisasi yang bisa memberdayakan potensi NU yang besar. Sebab, selama ini, banyak hal yang tidak terberdayakan.

    ”Jaringan harus dibangun karena fungsi kita banyak tidak efektif. Kita ditantang oleh perubahan, separuh kita bisa merespons lebih banyak juga tidak,” kata salah satu konseptor Khittah NU ini.

    Bagdja, yang merupakan mantan ketua umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, menyatakan siap dicalonkan menjadi ketua umum PBNU. “Jika para kiai, PWNU dan PCNU menganggap saya pantas jadi ketum PBNU, tentu saya siap,” ucapnya tegas.

    Meski belum ada sikap resmi dari sejumlah PWNU atau PCNU, namun ia mengaku sudah lama didesak banyak kalangan, terutama para kiai, untuk maju sebagai calon ketua umum PBNU. Ia pun tidak pernah menawarkan diri kepada siapa pun untuk dicalonkan.

    “Selama 25 tahun di NU, saya merasa tidak pas kalau harus menawarkan diri ke mana-mana untuk didukung atau dipilih,” ungkapnya.(*)
    •