Perjuangan menuju zuhud dan tawakal
Duta Masyarakat | 12 November 2009
Hamid Ahmad
Hamid Ahmad
Baca Juga
Jangan ancam dunia!Jangan ancam dunia!
Ketika banyak umat Islam memiliki kemampuan luar biasa untuk mengasingkan dunia dan mengubah teman menjadi musuh, maka tidak heran jika Anda akan menemukan contoh di beberapa ...
Ketika banyak umat Islam memiliki kemampuan luar biasa untuk mengasingkan dunia dan mengubah teman menjadi musuh, maka tidak heran jika Anda akan menemukan contoh di beberapa ...
Para pembual cinta
Para pembual cinta
Barangsiapa mengenakan busana-busana cahaya kedekatan dengan ruh yang senantiasa mengucilkan diri pada-Nya, plus terjaga dari bencana dan kesialan, dia tidak akan terusik gara-gara tuntutan dan tidak ...
Barangsiapa mengenakan busana-busana cahaya kedekatan dengan ruh yang senantiasa mengucilkan diri pada-Nya, plus terjaga dari bencana dan kesialan, dia tidak akan terusik gara-gara tuntutan dan tidak ...
Redakan perselisihan
Redakan perselisihan
Umat Islam tidak butuh lebih banyak perselisihan, perpecahan, permusuhan, dan pertengkaran. Sudah cukup. Tidak masuk akal, tidak bijaksana dan tidak realistis untuk membenturkan faksi Sunni dan ...
Umat Islam tidak butuh lebih banyak perselisihan, perpecahan, permusuhan, dan pertengkaran. Sudah cukup. Tidak masuk akal, tidak bijaksana dan tidak realistis untuk membenturkan faksi Sunni dan ...
Jalan orang-orang yang dicinta
Jalan orang-orang yang dicinta
Cinta Rasul s.a.w. kepada Tuhannya adalah cinta Dzat berkat musyahadah lantaraan terobsesinya ruh sekaligus melesatnya ruh ke wilayah kedekatan (dengan Allah).
Menurut Al-Wasithi, ...
Cinta Rasul s.a.w. kepada Tuhannya adalah cinta Dzat berkat musyahadah lantaraan terobsesinya ruh sekaligus melesatnya ruh ke wilayah kedekatan (dengan Allah).
Menurut Al-Wasithi, ...
Cinta Rasul murni 24 karat
Cinta Rasul murni 24 karat
“Kapankah seorang hamba mencapai maqam ridha?” tanya seseorang kepada Yahya ibn Mu’adz.
Yahya menjawab, “Bila dia telah mendudukkan dirinya di atas empat tiang atau fondasi.
Kualifikasi orang ridha
“Kapankah seorang hamba mencapai maqam ridha?” tanya seseorang kepada Yahya ibn Mu’adz.
Yahya menjawab, “Bila dia telah mendudukkan dirinya di atas empat tiang atau fondasi.
Kualifikasi orang ridha
Kualifikasi orang ridha
Ridha ialah satu maqam dalam tasawuf yang tinggi derajatnya. Allah SWT berfirman, “Wahai nafsu yang tenang (muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.”
Ridha ialah satu maqam dalam tasawuf yang tinggi derajatnya. Allah SWT berfirman, “Wahai nafsu yang tenang (muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.”
Zuhud (tidak menyukai dunia) adalah salah satu maqam, dalam disiplin tasawuf. Seperti disebut dahulu, dalam zuhud pun terdapat maqam dan hal. Mari kami perjelas: pada mulanya adalah suatu perjuangan tak kenal henti untuk men-zuhud-kan diri, melalui stasion hal yang memperlihatkan betapa lezatnya tidak menyibukkan diri dengan dunia dan betapa buruknya menghadap pada dunia.
Di tengah perjuangan itu datang sifat rakus nafsu terhadap dunia dan kecenderungannya untuk menatap pada sesuatu yang bersifat jangka pendek. Sifat terakhir ini menghapuskan bekas-bekas hal zuhud. Di lain waktu, datang lagi hal zuhud. Dan begitu seterusnya, silih berganti antara hal dan sifat rakus nafsu, sampai orang tersebut mendapat ma’unah (pertolongan) dari Allah yang Mahamulia. Berkat pertolongan tersebut, jadilah dia zahid atau pe-zuhud sejati karena zuhud telah bersemayam dengan mantap di hatinya serta menjadi maqam-nya.
Begitupun, tidak henti-hentinya hal tawakal menggedor pintu hati seseorang sampai dia benar-benar bertawakal. Dan tidak henti-hentinya stasion hal ridha mengetuk hatinya sampai dia merasa nyaman dan tenang dengan sikap ridha, dan ridha menjadi maqam-nya.
Di sini ada yang halus. Yaitu, maqam ridha dan tawakal tetap ada dan dihukumi kekal pada seseorang walaupun pada dirinya muncul dorongan tabiat (nafsu). Lain soal dengan hal ridha. Hal ini tidak dihukumi langgeng pada seseorang manakala muncul dorongan nafsu. Misalnya, tiba-tiba seorang pe-ridha tiba-tiba mendapati pada dirinya rasa benci akibat dorongan tabiat. Tetapi pengetahuannya mengenai maqam ridha segera menggelamkan rasa benci tersebut sebagai sifat tabiat. Munculnya rasa benci yang telah dikaramkan dengan ilmu tadi tidak mengeluarkan orang bersangkutan dari maqam ridha.
Sebaliknya, hal ridha sirna dengan munculnya dorongan nafsu berupa rasa benci. Pertanyaannya, apa beda hal ridha dengan maqam ridha? Karena hal, ketika berada dalam kondisi murni anugerah, dapat membakar dorongan tabiat.
Orang mungkin bertanya, “Bagaimana mungkin orang memiliki maqam ridha tapi tidak memiliki hal ridha, padahal hal itu pendahuluan maqam?”
Kami jawab, “Karena maqam ketika bercampur dengan usaha seseorang, maka dia memungkinkan terwujudnya tabiat (nafsu) di dalamnya. Adapun hal, ketika dia merupakan anugerah dari Allah, dia bersih dari campuran tabiat. Maka hal-nya ridha itu lebih murni, dan maqam ridha lebih mungkin (menerima yang lain).”



