‘A Face of Nation’
PERFORMANCE ART DI CCCL
Duta Masyarakat | 20 Agustus 2009
Baca Juga
9 BUMN belum terapkan GCG 9 BUMN belum terapkan GCG
Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) ternyata belum diimplementasikan di semua badan usaha milik nasional (BUMN), khususnya bidang usaha pertambangan, industri strategis, energi dan ...
Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) ternyata belum diimplementasikan di semua badan usaha milik nasional (BUMN), khususnya bidang usaha pertambangan, industri strategis, energi dan ...
Dewan jadi ‘terminal’ angkot
Dewan jadi ‘terminal’ angkot
ADA pemandangan tak biasa di Gedung DPRD Kota Malang, Senin (8/2) kemarin. Gedung wakil rakyat yang terhormat itu berubah menjadi ‘terminal angkot’. Pasalnya, ratusan unit angkot dari delapan jalur ...
ADA pemandangan tak biasa di Gedung DPRD Kota Malang, Senin (8/2) kemarin. Gedung wakil rakyat yang terhormat itu berubah menjadi ‘terminal angkot’. Pasalnya, ratusan unit angkot dari delapan jalur ...
Ciptakan detektor kebocoran gas
Ciptakan detektor kebocoran gas
AHMAD Zainuri masih setia menyambung kabel demi kabel. Setelah berhasil menyambungnya dan alat detektor kebocoran gas itu berfungsi, tak lama kemudian mati lagi. Merasa kurang rapat menyambung, ...
AHMAD Zainuri masih setia menyambung kabel demi kabel. Setelah berhasil menyambungnya dan alat detektor kebocoran gas itu berfungsi, tak lama kemudian mati lagi. Merasa kurang rapat menyambung, ...
Rentan kekerasan dan kriminalitas
Rentan kekerasan dan kriminalitas
Pilihan untuk mencegah anak-anak turun ke jalan, di antaranya, tinggalkan pendekatan proyek. Sebagai gantinya, negara harus memberi jaminan sosial bagi warga miskin tanpa perkecualian.
Al-Azhar tolak pusat studi Syi’ah
Jangan ancam dunia!
Pilihan untuk mencegah anak-anak turun ke jalan, di antaranya, tinggalkan pendekatan proyek. Sebagai gantinya, negara harus memberi jaminan sosial bagi warga miskin tanpa perkecualian.
Al-Azhar tolak pusat studi Syi’ah
Al-Azhar tolak pusat studi Syi’ah
Rencana pendirian pusat studi resmi Syi’ah di Mesir mendapat reaksi keras ulama Al-Azhar. Proyek tersebut tidak dibutuhkan karena mereka sudah mencintai Alhul Bait.
“Tidak bisa ...
Rencana pendirian pusat studi resmi Syi’ah di Mesir mendapat reaksi keras ulama Al-Azhar. Proyek tersebut tidak dibutuhkan karena mereka sudah mencintai Alhul Bait.
“Tidak bisa ...
Jangan ancam dunia!
Jangan ancam dunia!
Ketika banyak umat Islam memiliki kemampuan luar biasa untuk mengasingkan dunia dan mengubah teman menjadi musuh, maka tidak heran jika Anda akan menemukan contoh di beberapa ...
Ketika banyak umat Islam memiliki kemampuan luar biasa untuk mengasingkan dunia dan mengubah teman menjadi musuh, maka tidak heran jika Anda akan menemukan contoh di beberapa ...
Untuk pertamakalinya, di CCCL Surabaya digelar kegiatan seni yang mengangkat dan ‘membedah’ performance art (seni performa), dalam rangkaian acara “Pesta Seni Performa: XChange 2009”. Acara yang digagas oleh AppreRoom, sekaligus sebagai penyelenggara ini, mengangkat tema ‘nation’, ‘nationalism’, ‘nationalistic’ dan diadakan selama 3 hari, 19-21 Agustus 2009, mulai pkl.10.00 hingga 22.00.
Kegiatan ini antara lain bertujuan untuk memperkenalkan wacana seni kontemporer terkini di Indonesia dan internasional kepada publik Surabaya serta sebagai ajang untuk bertukar pengalaman. Sejumlah performance artists dari Jawa Timur dan mancanegara ikut berpartisipasi, berdiskusi, serta memberi workshop.
Para seniman asal Jawa Timur yang akan tampil antara lain: Agus Koecink, Atieq S S Listyowati, Benny Wicaksono, Noor Ibrahim, Saiful Hadjar, Taufik Monyong (Surabaya); Nemo Suneidesis (Madura); dan SAMIN Community (Malang). Sedangkan performance artists internasional yang memastikan akan tampil yaitu: Demosthenes Agrafiotis (Yunani), Éric Létourneau (Kanada), Inari Virmakoski (Finlandia), Mark Salvatus (Filipina), Paul Couillard (Kanada), Paulo Nazareth (Brasil).
Pesta Seni Performa 2009 ini merupakan ajang seni yang terbuka untuk umum. Mengawali perhelatan ini, pada Rabu (19/8) pukul 15.00 WIB digelar diskusi bertajuk “Nation; Nationalism; Nationalistic” bersama Riadi Ngasiran (penulis kesenian) dan Agus Koecink (kurator dan perupa) dengan moderator Atieq S S Listyowati. Dalam diskusi dicoba membahas persoalan yang dihadapi setiap bangsa. Ketika dunia kini bagai dalam lipatan waktu, disadari atau pun tidak, manusia berada dalam ambiguitas.
Proses percepatan globalisasi dibarengi sofistikasi teknologi tercanggih, budaya ruang maya yang memungkinkan setiap orang berbagai bangsa dapat berada di berbagai negara lain sekaligus.
Kebangsaan (nationality) pun menjadi sebuah atribut belaka. Bahkan ketika sebuah bangsa (nation) bergerak ekspansif, maka sesungguhnya ia hanya memberikan kesempatan bagi individu individu di dalamnya secara performative mengobjektivasikan diri pada prospek masing-masing.
Konsep nasionalisme menjadi teruji di sini. Otentisitas kebangsaan menjadi ‘quo-vadis’. Bahkan ‘statusquo’ seseorang hanya sebuah etika. Kecintaan seseorang (nasionalistic) menjadi sekedar apriori emosional. Krisis eksistensi bangsa?
Performance art yang menurut sejarahnya (sebagai gerakan ‘anti-art’) lahir akibat krisis eksistensi bangsa-bangsa di masa perang dunia I – II telah menjadi medium tersendiri bagi aktualisasi masing masing individu. Gerakan ‘avant-garde’ semakin memperpanjang barisan di seluruh antero dunia semenjak tercetusnya di Prancis [Paris, 1825]. Sebagai sentra kawasan melting point berbagai ide dan pemikiran, negara ini adalah saksi sejarah sekaligus situs eksistensi awal mula performance art.
- ziz



