Debat terakhir kandidat Presiden AS, Barack Obama dan John McCain, digelar Kamis (16/10) WIB. Inilah panggung terakhir kedua calon presiden itu untuk merebut simpati publik.
ISU ekonomi memang tetap menghiasi acara debat kali ini. Ya sebagaimana dua debat sebelumnya. Tapi isu lain—seperti rasis—juga mengemuka.
Soal isu ekonomi, kedua kandidat pun berusaha menjadi sosok pemimpin kuat di tengah terpaan gelombang krisis ekonomi global. Duel semakin seru ketika Obama memperluas kepemimpinan ala Partai Demokrat-nya. Dia berkampanye dengan optimistis mengenai prospek yang dia ajukan. Sementara McCain mencari cara untuk membela dirinya ala Partai Republik. Terutama dengan pemilu AS yang akan digelar tiga pekan lagi.
“Tidak mungkin kita menghabiskan empat tahun ke depan seperti delapan tahun ini, yakni menanti keberuntungan akan membuat perbedaan. Sebagai presiden, saya berniat untuk bertindak secara cepat dan tepat,” ujar McCain di Pennsylvania.
Di tempat itulah dia membeberkan semua proposal ekonominya dan memberikan pandangan terhadap strategi debatnya. Dia menegaskan, dirinya akan berbeda dibandingkan Presiden Bush dan akan lebih baik dari Obama.
Sehari sebelumnya di negara bagian Ohio, Obama memberikan garis besar terhadap rencana perekonomiannya dan memamerkan keahliannya. Menurutnya, McCain sama saja dengan pemerintah saat ini. Sebab itulah dia berpendapat Partai Demokrat adalah satu-satunya penyelamat dari kekacauan ekonomi saat ini.
“Kami akan menuju ke arah baru, kepemimpinan yang baru di Washington. Akan ada perubahan yang sebenarnya di kebijakan ekonomi dan politik dibandingkan delapan tahun belakangan ini,” ungkap Obama.
Krisis ekonomi telah bertransformasi menjadi konsep kampanye di AS selama beberapa bulan belakangan ini. Obama sedikit banyak telah menjadi pemimpin nasional masa depan di beberapa negara bagian utama. Sementara kebijakan Presiden Bush mulai tidak populer. McCain pun terbebani dengan usaha-usaha untuk bangkit.
Debat yang berlangsung di Hofsrta University di Hempstead, New York ini fokus pada kebijakan ekonomi dan politik. Para kandidat dimoderatori oleh Bob Schieffer, penyiar stasiun CBS. Pada dua debat sebelumnya, kedua capres menggunakannya untuk menegaskan pokok kampanye mereka.
Beberapa kali terlihat keduanya tak mengindahkan pertanyaan, hanya untuk mengungkapkan janji di tengah terjadinya krisis ekonomi ini. Kini, pada debat terakhir keduanya menjabarkan visi untuk negaranya dan mempromosikan kebijakan ekonomi yang berbeda satu dengan lainnya.
Serang Pribadi
Seperti sebelumnya, serangan terhadap karakter juga kembali terjadi. Obama makin gencar menuduh McCain ‘peragu’ dan ‘terhuyung-huyung’ selama krisis ekonomi. Intinya, ia menuduh McCain tidak siap. McCain pun kerap menuduh Obama terkait dengan William Ayers yang mendirikan grup anti-perang yang kasar, Weather Underground. Ayers yang kini seorang profesor di Chicago memang tampak sering menemui Obama.
Saling serang ini terus terjadi. Namun hasil jajak pendapat yang diselenggarakan Quinnipiac University menunjukkan Obama memimpin dengan dua digit di negara bagian Wisconsin dan Minnesota. Kandidat Partai Demokrat sebelumnya, John Kerry, juga pernah menang di tempat tersebut empat tahun lalu. Obama juga menang di Michigan, tempat yang ditinggalkan McCain pada awal bulan lalu.
Cawapres McCain, Sarah Palin, juga diutus untuk berkampanye di tempat-tempat pendukung partai ini seperti Indiana, North Carolina, dan Virginia guna meningkatkan dukungan GOP. Namun, dua kali kampanye di Pennsylvania, menunjukkan McCain berusaha untuk menarik simpati dari negara bagian di mana Kerry pernah menang, yang menyediakan 21 electoral votes.
Untuk menang, sebanyak 270 suara lagi dibutuhkan. Strategi McCain kini dipusatkan di Florida, Missouri, North Carolina, Virginia, Indiana, dan Ohio pada kolom GOP. Juga di 21 negara bagian lain di mana Bush pernah menang. Jika McCain mampu, maka ia akan mendapatkan 260 suara.
Sebanyak 10 suara masih ia butuhkan. Maka dia harus kembali meraihnya di Colorado, Nevada, dan New Mexico. Tak ketinggalan, di negara bagian yang dimenangkan Kerry, yakni New Hampshire, Wisconsin, dan Pennsylvania.
Politik Rasis
Serangan berbau rasis juga terjadi. Bahkan para analis dan komentator sibuk memperdebatkan, apakah memilih Barack Obama sebagai Presiden merupakan sebuah upaya melawan rasisme yang selama ratusan tahun berjalan di Amerika Serikat?
Apakah seorang kulit hitam di Gedung Putih (garis bawahi kata Putih) akan mengakhiri secara simbolik kredo politik AS bahwa hanya kulit putih yang berhak memimpin negara pembela kapitalis itu?
Selama ini dalam sejarah politik AS diyakini bahwa hanya M-W-P-A yang bisa menjadi pemimpin politik tertinggi di negeri itu. MWPA adalah singkatan dari Male (laki-laki), White (Kulit Putih), Protestant (Beragama Protestan) dan Anglo-Saxon (berasal dari nenek moyang dari Eropa, khususnya Inggris).
Kredo MWPA ini tidak terlepas dari sejarah panjang asal usul bangsa AS yang oleh para pendiri bangsanya didirikan atas fondasi yang sebetulnya berbau rasisme dan bias gender. Itulah sebabnya, dari 42 Presiden AS sampai sekarang tidak pernah ada yang kulit hitam atau kuning. Belum ada wanita yang jadi presiden atau wakil presiden. Belum ada orang Amerika keturunan Afrika atau Asia yang duduk di Gedung Putih. Memang pernah ada John F. Kennedy yang beragama Katolik jadi presiden, tapi kemudian dia ditembak di Dallas.
Munculnya Obama sebagai kandidat presiden yang populer menjungkirbalikkan fondasi dasar sistem politik AS. Obama memang laki-laki, tapi dia kulit hitam, berasal dari Afro-Amerika. Meskipun dia sudah mengumumkan beragama Protestan, tetapi tetap saja dihubungkan dengan latar belakang masa kecilnya yang pernah bersekolah di Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Jadi, seperti dikemukakan komentator politik Ron Jacobs, Pemilu di AS akan menjadi tonggak sejarah baru sistem politik di negeri itu. Pilihannya bukan lagi pada Partai Republik atau Partai Demokrat. Pilihannya bukan lagi pada John McCain atau Barack Obama. Tapi pilihannya adalah apakah bangsa AS akan mengakhiri kredo MWPA atau tidak?
Sudah relakah bangsa AS dipimpin oleh “orang yang bukan satu di antara kita” (meminjam istilah kandidat wakil presiden Sarah Palin).
Sebagian warga AS dengan tegas menyatakan tidak. Dalam alam bawah sadar bangsa AS, rasisme berurat berakar sepanjang sejarah berdirinya bangsa itu. Sampai saat ini di dalam alam pikiran jutaan rakyat AS, mereka belum bisa menerima dengan ikhlas seorang lelaki kulit hitam, bersama istri dan anak-anaknya, bisa tinggal di sebuah gedung yang namanya saja jelas-jelas “White House” atau Gedung Putih. “Orang kulit hitam di Gedung Putih? It is not American dream, but American nightmare,” komentar seorang warga di kampanye Palin. (ara/inc)